Bangun Sejuta Rusun Dianggap Lebih Realistis Dibanding Rumah

Kebutuhan hunian di Indonesia masih terbilang tinggi. Menurut data Badan Pusat Statistik 2010 mencapai 13,5 juta unit.

Dosen Kelompok Keahlian Perumahan Permukiman Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SKPPK) Institut Teknologi Bandung (ITB), Jehansyah Siregar memprediksi jumlah ini akan meningkat saat sensus BPS selanjutnya pada 2020.

Hal tersebut terjadi karena upaya pemenuhan pasokan rumah tidak sejalan dengan pertambahan jumlah backlog setiap tahun.

Pasalnya, pemerintah hanya fokus pada pembangunan perumahan tapak, bukannya rumah susun sewa (rusunawa).

“Realistis itu (membangun) satu juta unit rusunawa atau public housing setahun. Seperti China itu target public housing 35 juta unit dalam 5 tahun,” ujar Jehansyah kepad Kompas.com, Kamis (12/1/2017).

Ia menuturkan, China memiliki penduduk dan luas wilayah yang lebih besar daripada Indonesia.

Dibandingkan China, Indonesia bisa membangun maksimal 7 juta unit atau minimal 5 juta unit per lima tahun. Ini sama saja membangun rusunawa sejuta unit dalam satu tahun.

Meski demikian, dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2019 target rusunawa yang dibangun hanya 550.000 unit setahun.

“Dari target itu saja, pada 2015 hanya terbangun 15.000 unit, 2016 terbangun 11.000 unit. Kan jauh banget (dari target), kapan selesainya backlog,” sebut Jehansyah.

Menurut dia, kekurangan pembangunan ini dipengaruhi masalah kapasitas produksi, teknologi, delivery system, dan kapasitas instalasi.

Saat ini, Indonesia belum memiliki sumber daya tersebut untuk dapat menyediakan rusunawa yang dikembangkan secara masif.

“Seharusnya ini dipikirkan holding BUMN perumahan, karena mereka kapasitasnya di sana. Jangan hanya jadi kontraktor saja,” tutur Jehansyah.

Sebenarnya, pemerintah bisa menentukan 10 kota besar di Indonesia untuk pembangunan satu juta rusunawa dalam setahun.

Di 10 lokasi tersebut, rusunawa bisa dibangun di 100 titik dengan masing-masing titik dibangun 10.000 unit.

Pembangunan 10.000 unit dalam satu lokasi ini mirip seperti Kalibata City. Tetapi, kata Jehansyah, Kalibata City terlalu padat karena lahannya hanya 5 hektar.

Lebih baik, jika ingin membangun 10.000 unit, paling tidak lahannya 20 hektar.

“Selama ini kan rusunawa tidak dianggap. Kalau dibangun cuma 11.oo0, ya sudah segitu mampunya kontraktor, segitu mampunya tender. Namanya dikerjakan oleh satker (satuan kerja). Mampunya segitu lah,” tuntas Jehansyah.

http://properti.kompas.com/read/2017/01/13/190000121/bangun.sejuta.rusun.dianggap.lebih.realistis.dibanding.rumah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *